Bregada Nogoroso Gamping Sabet Juara III Festival Bregada Rakyat DIY 2026

redaksi
A-AA+A++

Foto. Personil Bregada  Nogoroso Gamping.dok.

 

 

 

 

SLEMAN,Jogopublik,– Bregada Nogoroso dari Gamping, Kabupaten Sleman, berhasil meraih juara III dalam Festival Bregada Rakyat (FBR) DIY 2026 yang digelar di Youth Centre Yogyakarta, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Minggu (18/10/2026). Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Gamping sekaligus menunjukkan eksistensi seni keprajuritan rakyat dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Yogyakarta.

Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-15 ini diikuti 18 kelompok bregada dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menariknya, sejumlah peserta merupakan kelompok yang pernah meraih gelar juara pada penyelenggaraan sebelumnya.

Mengusung tema “Gumregah Gumregut Tanpa Surut” festival tahun ini menjadi ajang unjuk kemampuan, kreativitas, dan kekompakan kelompok bregada rakyat dalam mempertahankan tradisi di tengah perkembangan zaman.

Keberhasilan Bregada Nogoroso Gamping meraih posisi ketiga menjadi capaian tersendiri dalam kompetisi yang mempertemukan kelompok-kelompok bregada dari berbagai daerah tersebut.

Dinilai dari Baris-Berbaris hingga Penjiwaan

Pelaksanaan Festival Bregada Rakyat DIY 2026 dimulai pukul 13.00 WIB dari Lapangan Getas, Tlogoadi, Mlati. Para peserta kemudian berbaris menyusuri Jalan Kebon Agung menuju garis finis di Youth Centre Yogyakarta.

Penampilan setiap kelompok dinilai oleh lima orang juri yang berasal dari unsur Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, budayawan, seniman, dan wartawan.

Aspek penilaian meliputi tata lampah atau baris-berbaris, tata busana atau kostum, tata musik, serta penghayatan dan penjiwaan penampilan. Dari penilaian tersebut, dipilih lima penyaji terbaik yang berhak memperoleh piala dan uang pembinaan dengan total sebesar Rp36 juta.

Prestasi Bregada Nogoroso Gamping menunjukkan bahwa kelompok bregada berbasis masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan seni keprajuritan rakyat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya DIY.

Baca juga:
STAK Yogyakarta Tegaskan Netralitas di Tengah Dinamika Politik, Ajak Massa Jaga Jogja Tetap Kondusif

Bregada Rakyat sebagai Identitas Keistimewaan DIY

Pembina Bregada Rakyat DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan bahwa Festival Bregada Rakyat merupakan agenda tahunan Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY yang didukung Dinas Kebudayaan DIY.

Menurutnya, penyelenggaraan festival dilakukan secara bergiliran di berbagai wilayah DIY. Pada 2025, kegiatan tersebut digelar di kompleks Gua Selarong, Bantul, bertepatan dengan momentum peringatan 200 tahun Perang Jawa.

Widihasto menyebut bregada rakyat sebagai salah satu bentuk seni keprajuritan yang berkembang di lingkungan kampung, padukuhan, desa, hingga sekolah menengah atas.

“Keberadaan seni keprajuritan rakyat atau dikenal dengan bregada rakyat ini hanya ada di DIY. Keberadaan ini menjadi salah satu penanda keistimewaan DIY. Bregada juga menjadi ajang konsolidasi masyarakat sipil menjaga kebersamaan, persatuan sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya,” terang Widihasto.

Selain memiliki nilai budaya, keberadaan bregada rakyat juga memberikan dampak ekonomi bagi para perajin perlengkapan tradisional, mulai dari blangkon, surjan, beskap, kebaya, kain batik, keris, tombak, hingga berbagai alat musik pengiring.

Widihasto mencontohkan, apabila satu personel bregada membutuhkan perlengkapan busana senilai Rp1 juta dan satu kelompok terdiri atas 30 orang, kebutuhan tersebut dapat mencapai Rp30 juta untuk satu kelompok. Dengan jumlah kelompok bregada yang mencapai ratusan, aktivitas ini turut membuka peluang ekonomi bagi para perajin lokal.

Gumregah, Gumregut, Tanpa Surut

Tema “Gumregah Gumregut Tanpa Surut” mengandung pesan tentang kebangkitan kesadaran masyarakat untuk menjadikan kebudayaan sebagai jati diri, sumber nilai, dan kekuatan bersama.

Kata gumregah dimaknai sebagai kebangkitan kesadaran untuk mengenali, mencintai, dan melestarikan warisan budaya Yogyakarta. Sementara Gumreget menggambarkan kesungguhan, kegigihan, dan daya juang dalam mencapai tujuan. Adapun tanpa surut menegaskan semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

Baca juga:
150 Santri Siap Berlaga di FASI XIII Tingkat DIY

Capaian juara III Bregada Nogoroso Gamping diharapkan menjadi penyemangat bagi para pegiat seni keprajuritan rakyat untuk terus berlatih, menjaga kekompakan, dan mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Prestasi ini sekaligus mempertegas bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai pemilik sekaligus penerus warisan budaya daerah.

( Ima/red)

 

 

error: Content is protected !!