Foto.Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., secara resmi membuka program Gerakan Kulon Progo Mengaji.dok.
KULON PROGO,Jogjapublik,- Lebih dari 41.000 pelajar dari sekitar 490 sekolah di Kabupaten Kulon Progo mengikuti Muqodaman Gema Al-Qur’an dalam program Gerakan Kulon Progo Mengaji (GKM), Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang digelar secara hybrid ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo.
Kegiatan dipusatkan di Aula MAN 2 Kulon Progo dan diikuti peserta secara daring melalui Zoom. Acara tersebut juga disiarkan langsung melalui kanal Kulon Progo TV. Partisipasi turut datang dari SMP Negeri 2 Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., secara resmi membuka program Gerakan Kulon Progo Mengaji. Kegiatan ini dihadiri Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kabupaten Kulon Progo Heru Santosa, S.P., M.Eng., Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulon Progo Drs. Nur Wahyudi, M.M., Ketua PGRI Kulon Progo Drs. Agus Sutik Dwiartanta, M.Pd., Kepala Kantor Kementerian Agama Kulon Progo H. M. Wahib Jamil, S.Ag., M.Pd., serta perwakilan organisasi perangkat daerah dan Baznas Kulon Progo.
Dalam sambutannya, Bupati Agung Setyawan menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur fisik. Pembangunan spiritual dan pembentukan karakter masyarakat juga perlu mendapat perhatian agar kemajuan daerah diimbangi dengan kualitas moral yang kuat.
Menurutnya, pembiasaan membaca Al-Qur’an dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membaca minimal satu ayat setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar di sekolah atau aktivitas di kantor.
“Dengan meningkatnya kualitas spiritualitas masyarakat, kita membawa perubahan yang cukup berarti karena manusia senantiasa ingat kepada hubungannya dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, serta berhati-hati dalam menjaga hubungan antarsesama manusia,” ungkap Agung.
Ia berharap penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini dapat menjadi fondasi bagi generasi muda Kulon Progo untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Kita tanamkan sejak kecil, maka besar harapan saya anak-anak kita terselamatkan dan menjadi generasi yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin besar di masa depan karena diberikan landasan spiritualitas yang kuat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agung juga mengajak para pelajar untuk berdiri dan menyampaikan rasa terima kasih kepada guru-guru mereka. Pesan tersebut menjadi pengingat pentingnya menghormati jasa pendidik dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.
Sementara itu, Ketua Gerakan Kulon Progo Mengaji, H. Ilyasin, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan Muqodaman Gema Al-Qur’an bukan sekadar seremoni peringatan hari jadi daerah, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an.
“Visi dan misi kami adalah membumikan Al-Qur’an serta mengupayakan agar gema Al-Qur’an benar-benar terwujud di Kulon Progo. Kami berharap agenda Muqodaman ini dapat terus istiqamah dilaksanakan sepanjang tahun, setidaknya menjadi tradisi tahunan yang seirama dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo,” tutur Ilyasin.
Ia juga berharap gerakan tersebut dapat menginspirasi sekolah-sekolah dan daerah lain untuk mengembangkan kegiatan serupa. Dengan demikian, pembiasaan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo, H. M. Wahib Jamil, S.Ag., M.Pd., mengingatkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari kualitas jalan, infrastruktur, dan fasilitas publik, tetapi juga dari karakter serta akhlak masyarakatnya.
“Kita bangga Kulon Progo punya jalan yang bagus, infrastruktur yang mumpuni, dan fasilitas yang tak kalah dari daerah lain. Namun, di balik itu semua, kita harus menyiapkan fondasi spiritual yang kokoh. Pembangunan fisik harus seiring sejalan dengan pembentukan akhlak dan karakter mulia,” pesannya.
Wahib Jamil turut menekankan tiga pilar pendidikan karakter, yakni nilai religius, komitmen kebangsaan, dan nilai budaya luhur Yogyakarta.
Untuk menggerakkan Gerakan Kulon Progo Mengaji, ia juga menyampaikan tiga langkah utama, yaitu mencintai Al-Qur’an, menggali hikmahnya, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar tersebut, Gerakan Kulon Progo Mengaji diharapkan tidak berhenti pada kegiatan membaca Al-Qur’an bersama, tetapi berkembang menjadi gerakan pembentukan karakter yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Momentum Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah perlu berjalan beriringan dengan penguatan nilai spiritual, akhlak, dan budaya luhur demi mewujudkan masyarakat yang aman, nyaman, tenteram, dan sejahtera.
( Pai/JP)







