KULON PROGO,Jogjapublik,- Semangat pelestarian seni budaya kembali menggeliat di Padukuhan II Boro, Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Kulon Progo. Dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) berupa seperangkat gamelan menjadi pemantik kebangkitan kembali kesenian tradisional yang sempat lama vakum.
Penyerahan bantuan tersebut dihadiri Bupati Kulon Progo Agung Setyawan, jajaran pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, tokoh masyarakat, serta warga setempat, Rabu malam (7/10/2026).
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengapresiasi komitmen PT SMI yang turut memberikan perhatian terhadap pelestarian seni dan budaya di wilayah Kulon Progo.
Menurut Agung, bantuan sarana kesenian tersebut dinilai tepat sasaran karena Karangsewu memiliki ekosistem sosial yang aktif, terutama dari kalangan pemerintah kalurahan, karang taruna, hingga generasi muda.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian PT SMI yang menyalurkan bantuan TJSL ke Karangsewu. Langkah ini sangat tepat karena daerah ini memang layak diperhatikan. Pemuda-pemudinya, pemerintahannya, dan karang tarunanya semua aktif,” ujar Agung.
Ia berharap bantuan seperangkat gamelan tersebut tidak hanya menjadi sarana kesenian, tetapi juga mampu mendorong anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan kreativitas melalui kegiatan positif.
Agung juga berharap keberadaan sarana tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan seni budaya adiluhung, khususnya di Kapanewon Galur.
Sementara itu, Head of Corporate Secretary PT SMI Ramona Harimurti mengatakan PT SMI merupakan BUMN di bawah koordinasi Kementerian Keuangan yang memiliki fokus pada pembiayaan pembangunan nasional.
Menurutnya, peran PT SMI tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan pembangunan infrastruktur berskala besar, tetapi juga diwujudkan melalui dukungan terhadap masyarakat dan penguatan potensi lokal.
“Kami berkomitmen penuh untuk mengambil peran aktif dalam mendukung pelestarian budaya lokal. Kami percaya bahwa menjaga akar budaya bangsa dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Ramona.
Bangkitkan Kembali Tradisi yang Sempat Vakum
Dukungan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat Padukuhan Boro. Pengelola Kegiatan Kebudayaan sekaligus Dukuh Padukuhan Boro, Greg Andi Sindana, mengatakan wilayahnya memiliki sejarah panjang sebagai salah satu sentra kegiatan kesenian pada era 1950 hingga 1970-an.
Saat itu, kesenian gamelan, karawitan, hingga ketoprak berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas kesenian tersebut mengalami kemunduran. Kini, dengan adanya dukungan sarana gamelan, masyarakat berupaya menghidupkan kembali tradisi yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warga Boro.
“Bantuan ini sangat membantu kami. Lewat dukungan ini, kami bisa menghidupkan kembali tradisi yang dulu pernah hidup di tengah masyarakat. Bahkan untuk ketoprak, ini menjadi pementasan kembali setelah 41 tahun tidak pernah pentas,” ungkap Andi.
Andi menambahkan, kebangkitan kembali kesenian tradisional tersebut tidak terlepas dari sinergi dan pendampingan pemerintah, mulai dari tingkat kalurahan, kapanewon hingga kabupaten.
Ia berharap dukungan tersebut dapat menjadi awal bagi generasi muda untuk kembali mencintai dan melestarikan kesenian tradisional.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan prosesi penyerahan bantuan seperangkat gamelan secara simbolis kepada masyarakat Padukuhan II Boro.
Dengan bantuan tersebut, warga berharap geliat seni tradisional di Boro tidak sekadar kembali hidup, tetapi dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
( Pai/JP)







