Kampung Pak AR Banaran Disiapkan Jadi Pusat Keteladanan Nasional, Dorong Wisata Edukasi dan Ekonomi Warga

redaksi
A-AA+A++

 

KULON PROGO,Jogja Publik, – Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai mengembangkan Kampung Tematik dan Ekosistem Kebudayaan dengan menjadikan Kampung Pak AR Banaran di Kalurahan Banaran sebagai salah satu inisiatif utama. Kawasan ini dirancang sebagai ruang edukasi sejarah, spiritualitas, kebudayaan, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis keteladanan tokoh bangsa.

Pengembangan tersebut mengangkat nilai kesederhanaan dan kedekatan dengan masyarakat yang melekat pada sosok almarhum K.H. A.R. Fakhruddin atau Pak AR, tokoh Muhammadiyah yang dikenal bersahaja dan dekat dengan rakyat. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Ir. H. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., menekankan pentingnya memperkuat gerakan kebaikan dari tingkat paling bawah atau akar rumput.

Dalam dialog bersama masyarakat, ia menyampaikan ungkapan, *“Merga ranting kuwi penting,”* yang menegaskan pentingnya peran ranting sebagai struktur dasar dalam menjaga kedekatan dengan masyarakat dan memperkuat gerakan kemaslahatan.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial juga perlu dimanfaatkan secara bijak untuk menyebarkan nilai-nilai keteladanan, bukan membangun kultus individu.

“Bukan dalam konteks kultus individu, tetapi dalam konteks kemanfaatan. Daripada kita datang ke satu tempat untuk ziarah fisik yang kurang jelas, niki meneladani dan mensyiarkan kemanfaatan dari pemikiran-pemikiran yang memang sudah terbukti membawa kemajuan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., menyampaikan bahwa daerahnya memiliki kekayaan sejarah dan ketokohan yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Selain Pak AR, sejumlah tokoh yang memiliki jejak sejarah di Kulon Progo antara lain Nyai Ageng Serang dan seniman legendaris Ki Hadi Sugito. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan melalui pendekatan kebudayaan, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga:
NSC Wates Resmi Beroperasi, Joko Mursito Dorong Ekonomi Lokal dan Film Karya Anak Kulon Progo

Rencana pengembangan Kampung Pak AR Banaran mencakup pembangunan museum terpadu, kerja sama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), penguatan ekonomi lokal, serta penyediaan pengalaman wisata edukatif yang interaktif.

“Langkah ini adalah ikhtiar kita bersama untuk mengenang, mengenal, dan memastikan mata rantai sejarah peradaban kita tidak terputus. Kita ingin warisan nilai-nilai kebaikan dari para tokoh kita tetap menjadi penuntun bagi generasi mendatang,” ungkap Agung.

Empat zona unggulan Kampung Pak AR Banaran

Ketua Pelaksana Pengembangan Kampung Pak AR Banaran, Wakhid Purwosubiantoro, S.T.P., M.M., menjelaskan bahwa kawasan tersebut dirancang dengan konsep Living Museum & Santri Auditorium. Konsep ini menggabungkan pelestarian sejarah, pendidikan, kehidupan masyarakat, dan wisata berbasis lingkungan.

Pengembangan kawasan dibagi menjadi empat zona utama.

Pertama, Zona Napak Tilas dan Spiritual, yang mencakup replika rumah Pak AR, situs ibunda, serta masjid perjuangan sebagai sarana mengenal perjalanan sejarah dan nilai-nilai keteladanan.

Kedua, Zona Edukasi Kampung Santri, yang menghadirkan pengalaman live santri agar pengunjung dapat mengenal kehidupan, tradisi, dan nilai-nilai pendidikan di lingkungan masyarakat.

Ketiga, Zona Kuliner dan Ekonomi Warga, yang diarahkan untuk mengangkat potensi produk lokal, seperti lele asap, belut, ikan wader, sentra peternakan itik, hingga Kampung Jamu.

Keempat, Zona Ekowisata Tepi Progo, yang dirancang untuk mengembangkan wisata berbasis konservasi, termasuk pelestarian mangrove dan kegiatan pelepasan tukik.

“Kami ingin menghadirkan ruang di mana siapa saja—baik keluarga, generasi muda, pelajar, hingga instansi—bisa datang dan merasakan langsung bagaimana nilai kesederhanaan dan keteladanan Pak AR diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Wakhid.

Ia berharap Kampung Pak AR Banaran dapat berkembang menjadi pusat keteladanan nasional yang mampu menggerakkan perekonomian warga sekaligus menjaga kelestarian alam.

Baca juga:
Kecelakaan Beruntun di Banguntapan Bantul, Pengayuh Becak Tewas di Lokasi

Sejarah diakses melalui teknologi digital

Untuk memperkuat pengalaman edukasi, pengelola juga merencanakan pemanfaatan teknologi digital melalui QR Code History yang ditempatkan di setiap situs sejarah. Pengunjung nantinya dapat memindai kode tersebut menggunakan gawai untuk mengakses narasi audiovisual mengenai sejarah dan tokoh yang berkaitan dengan kawasan tersebut.

Pemanfaatan teknologi ini diharapkan membuat pembelajaran sejarah lebih mudah diakses, terutama oleh generasi muda yang terbiasa menggunakan perangkat digital.

Inisiatif pengembangan Kampung Pak AR Banaran turut mendapat dukungan dari jajaran pimpinan Muhammadiyah di tingkat DIY dan Kulon Progo. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, S.STP., M.Eng., serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Drs. Nur Wahyudi, M.M.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, institusi pendidikan, dan warga menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan tersebut.

Melalui pendekatan lintas sektor, Kampung Pak AR Banaran diharapkan tidak sekadar menjadi destinasi wisata baru, tetapi juga ruang pembelajaran yang menghubungkan sejarah, nilai spiritual, kebudayaan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, warisan keteladanan para tokoh di Kulon Progo diharapkan tetap hidup dan relevan, sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

( Pai/JP)

error: Content is protected !!