GUNUNGKIDUL,Jogjapublik, – Bantuan air bersih menjadi pintu masuk Densus 88 Anti Teror (AT) Polri untuk memperkuat kedekatan dengan masyarakat sekaligus membangun ketahanan sosial terhadap paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
Melalui Satgaswil DIY, Densus 88 AT Polri menyambangi Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (22/9/2026). Tak hanya menyalurkan air bersih, aparat juga memberikan dukungan sarana air serta edukasi pencegahan radikalisme kepada masyarakat.
Bantuan air bersih disalurkan kepada tiga padukuhan. Rinciannya, Padukuhan Mojosari sebanyak 180 kepala keluarga (KK), Kedungpoh Kulon 65 KK, dan Nglorog 35 KK.
Dukungan tidak berhenti pada distribusi air. Densus 88 juga membantu pendalaman sumur bor di Padukuhan Mojosari serta memberikan mesin pompa air untuk masyarakat Padukuhan Nglorog.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi ruang penting untuk membangun komunikasi dan memperkuat hubungan antara aparat dengan warga.
Lebih dari 150 Warga Diberi Bekal
Usai kegiatan sosial, Densus 88 AT Polri Satgaswil DIY menggelar kegiatan penguatan imunitas masyarakat terhadap paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
Lebih dari 150 warga mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula Panewu Nglipar, Kapolsek, lurah, para dukuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta peserta program deradikalisasi, termasuk eks narapidana terorisme dan eks anggota JI.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai faktor yang dapat mendorong berkembangnya paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan, termasuk potensi pengaruhnya terhadap masyarakat dan anak-anak.
Warga juga dibekali pemahaman untuk mengenali ciri-ciri paparan paham tersebut serta langkah pencegahannya sejak dini.
Pesan yang ditekankan bukan sekadar mengenali ancaman, tetapi bagaimana keluarga dan lingkungan sosial mampu menjadi ruang pertama untuk mencegah berkembangnya paham kekerasan.
Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Satgaswil DIY menegaskan, pencegahan radikalisme dan ekstremisme kekerasan merupakan tanggung jawab bersama.
Keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah kapanewon dan kalurahan hingga masyarakat secara luas memiliki peran dalam membangun lingkungan yang aman, toleran dan mampu menghadapi potensi penyebaran paham kekerasan.
Dari Kedungpoh, pesan yang dibawa Densus 88 pun menjadi lebih luas: ketahanan masyarakat tidak hanya dibangun dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui kepedulian sosial, komunikasi dan edukasi.
Air bersih membantu memenuhi kebutuhan warga. Sementara edukasi diharapkan memperkuat daya tangkal masyarakat agar tidak mudah terpapar paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
Keduanya dipertemukan dalam satu kegiatan dengan satu tujuan, yakni memperkuat kebersamaan masyarakat dalam menjaga keamanan, toleransi, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
( Red )







